Tampilkan postingan dengan label Mozaik Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mozaik Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Maret 2013

Kumpulan Tweet: Sabar dan Syukur

Kumpulan Tweet: Sabar dan Syukur


10/26/2011 08:40:00 PM | , , , , بسم الله الرحمن الرحيم

1. Haha, syukuri apa yang terlah kau terima, ingatlah, bila kau bersyukur, Allah tambah rezekimu, bila kau kufur, maka sebaliknya yang terjadi.

2. Haha, ingat hidup ini penuh dengan sabar dan syukur, bersyukurlah ketika mendapat nikmat, bersabarlah ketika mendapat cobaan.

3. Bersyukurlah atas segala yang diberikanNya padamu, syukurilah keadaanmu, keluargamu, orangtuamu, kawan-kawanmu, dan segalanya.

4. Bersabarlah atas cobaanNya kepadamu, saat kau sulit, kesal, jengkel atas apa yang kau alami. Ingatlah, tak ada kata "habis" dalam bersabar.

5. Ingatlah, bisa jadi kau membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, begitu sebaliknya, Allah MENGETAHUI, sedang ENGKAU tidak mengetahui.

6. Itulah misteri-Nya, Dia memberi cobaan bagimu dengan keluarga, orangtua dan hartamu, sesungguhnya Dia menyayangimu dengan cara yang tak terduga.

7. Bersyukurlah dan bersabarlah, itulah hidup, dan jika kamu melakukannya, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang beruntung.

8. Apapun yang kau rasai, sadarlah ini pemberian dariNya, sekali lagi, Dia menyayangi hambaNya dengan cara yang Dia kehendaki, itulah dahsyatnya.

9. Bersyukur ketika mendapat kebaikan/nikmat dan bershabar ketika diberi cobaan, semua menjadi kebaikan, itulah keajaiban orang yang beriman.

10. Ketahuilah, tiada satu kejadian tanpa makna, tiada satu peristiwa yang sia-sia. Terdapat hikmah dibalik itu semua. Ingatlah, renungilah.

11. Orangtua, adalah anugerah terindah yang diberikanNya padamu, sebagaimanapun perlakuan yang kau dapatkan, sesungguhnya itu adalah ekspresi rasa sayang yang unik. Tak percaya? buktikan saat anda menjadi orang tua. #mariii

12. Oho, ketika seorang mukmin bersabar atas ujian yang menimpanya, maka Allah akan menghapus kesalahannya & mengangkat derajatnya di Surga.

13. Bersyukurlah atas apa yang kau dapatkan, mudah-mudahan engkau bahagia.

14. Dan sekali lagi, begitulah hidup, ia laksana tubuh dengan sabar dan syukur sebagai otak dan jantungnya, sangat vital.

15. Saat kau tak bersabar atas ujianNya, maka kau akan gelisah, kalut, galau&ketidakpastian, itulah saat hatimu kotor. Bersihkan dengan shabarmu.

16. Dan ingatlah, bahwa syukur adalah kunci dari diturunkannya rezeki bagimu.

sedekah beberapa sahabat Nabi

Sedekah Yuk: Sedekah Beberapa Sahabat Nabi


11/27/2010 10:29:00 PM | , , , بسم الله الرحمن الرحيم

Bila kita berbicara berkenaan dengan sedekah dan kita kaitkan dengan para shabat Rasul, maka kita akan tertuju kepada beberapa nama sahabat yang juga pedagang dan kaya akan harta, mereka tentu sudah tak asing lagi bagi kita, karena siapa yang dapat melupakan kalimat yang bahkan 'Umar ibn Khaththab sendiri pun mengakui takkan bisa mengalahkan orang yang mengucapkan kalimat tersebut, "Cukup Allah dan Rasul-Nya." Lalu, siapa pula yang dapat mengalahkan infaq sahabat yang kaya nan dermawan ini, beliau tetap konsisten menginfaqan dagangannya sementara banyak yang menawarkannya keuntungan puluhan persen dengan menolaknya dengan mantap, "Dia memberikanku keuntungan 1000 persen!". Juga semua tentu akan selalu ingat dengan sahabat nabi yang memulai usahanya di Madinah dengan tangan hampa dan 1 bulan kemudian menjadi pedagang sukses serta selalu menginfaqan hartanya dalam jumlah yang amat besar. Ada juga yang bila menurut hitungan infaqnya tidak seberapa namun akan sangat luar biasa apabila kita tahu kebenarannya. Lain lagi dengan yang mengatur siasat dalam menjamu tamu dan itu merupakan hal yang amat luar biasa.

Di sini, kita akan sedikit membahas para sahabat tersebut, meski sedikit, insya Allah akan melecutkan semangat berinfaq!

Selamat datang di Seri ke-3 dari Serial Catatan Firman Maulana: Sedekah Yuk!

"Cukuplah Allah dan Rasul-Nya Bagiku"
Adakah sahabat yang lebih utama dari beliau? Dari segala aspek, beliau memang paling utama, kita tentu sudah dapat menebaknya, Abu Bakr Ash-Shiddiq.
Dalam urusan bersedekah dan berinfaq beliau juga sering melakukannya, saat beliau membeli budak-budak Muslim dari tangan Kafir, ia lalu memerdekakannya -hal yang sangat didambakan para budak-. Selain itu juga pastinya beliau sering bersedekah kepada mereka yang membutuhkan.
Namun, dari semua itu ada di satu kesempatan yang menarik bagi saya, yaitu kisah yang diriwayatkan 'Umar ibn Khaththab.

Ketika itu, Ummat Islam di Madinah dikepung dari segala penjuru, baik dari dalam dengan berkhianatnya Yahudi Madinah, juga dari luar dengan kafir Quraisy yang bersekutu dengan kaum-kaum lain yang membenci Islam, membutuhkan banyak pengorbanan baik harta maupun jiwa, maka dianjurkanlah oleh Rasulullah untuk beramal menyumbangkan hartanya. Ketika itu Umar datang membawa hartanya, ketika ditanya oleh Rasulullah tentang apa yang ditinggalkan untuknya dan keluarganya, Umar menjawab bahwa ia meninggalkan separuh hartanya untuknya dan keluarganya. Lalu, tak lama kemudian, datanglah Abu Bakr, dan kita ingat sendiri kisah ini, ketika ditanya tentang apa yang ia tinggalkan untuknya dan keluarganya, maka sebuah kalimat tinggi penuh keimanan terlafazhkan dari lisannya, "Cukup bagiku Allah dan Rasul-Nya." Subhanallah! begitu dahsyatnya beliau, menyumbangkan semuanya demi Islam.

Ya, kalimat itu bagi saya menjadi kalimat yang selalu diingat, diingat sebagai kalimat dengan keimanan tinggi.


"Dia Memberiku Keuntungan SERIBU PERSEN!"
Pernah suatu saat, Madinah mengalami kondisi paceklik, bahan-bahan pokok mulai langka, jarang diketemukan, bila ada pun, harganya begitu mahal.
Ketika itu, seorang Businessman Zaman Itu yang juga dijuluki "Pemilik Dua Cahaya" sedang di tengah perjalanan dari kegiatan dagangnya dan akan memberikan barang-barang pokok itu kepada kaum muslimin di Madinah yang dilanda paceklik, tiba-tiba dicegat oleh pedagang-pedagang yang gila akan harta, gila akan keuntungan. Mereka, saling menawar harga kepada Businessman itu, mereka saling bersaing, mereka ingin membeli darinya dan menjual kepada penduduk Madinah dengan harga yang sangat tinggi. Mereka menjanjikan keuntungan yang cukup banyak, ada yang menjanjikan keuntungan belasan persen, ada pula yang 20-an persen, ada pula yang lebih tinggi dari itu. Namun, apa kata pria shalih ini? Beliau malah balik bertanya, "Ada yang sanggup memberikan keuntungan lebih dari itu? 100%?" Tentu saja tak ada yang berani bersedia, lalu diteruskan kalimatnya, "Namun, Allah, akan memberiku keuntungan SERIBU PERSEN!"
Maka, kalimat ini menjadi kalimat yang melemaskan para pedagang tersebut, niat mereka yang tidak baik. Lalu, berjalanlah kafilah dagangnya melenggang ke Madinah dan membagikan bahan-bahan pokok ke penduduk Madinah.
Inilah beliau, 'Utsman ibn 'Affan.


1 Dirham, 1 Dirham, 1 Dirham
Lelaki ini adalah lelaki yang sempat diperebutkan Rasulullah, Muhajirin, dan Anshar. Lelaki ini adalah seorang anak dari ayah terhormat ketika masih di tempat asalnya. Lelaki ini adalah lelaki yang berkelana mencari kebenaran. Lelaki ini adalah arsitek yang hebat. Lelaki ini juga mencetuskan gagasan cemerlang pada Perang Khandaq. Lelaki ini adalah seorang Hamba-Nya yang merasa terlalu memiliki banyak harta padahal pada saat wafat, yang dimilikinya hanya baju yang digunakannya, kasur yang ia berbaring di atasnya, juga satu barang lagi (saya agak lupa-mungkin wajan). Lelaki ini adalah Salman al-Farisy.
Saya pernah membaca dalam suatu riwayat bahwa beliau pernah membuat sebuah usaha kecil-kecilan, bahkan amat kecil. Lalu biasanya yang ia dapatkan adalah 3 Dirham perharinya. Lalu pertanyannya, 3 Dirham ini akan digunakan untuk apa? Bila saya ajukan pertanyaan itu kepada anda, apa yang akan anda jawab? Mungkin saja akan digunakan untuk keperluannya, dan mungkin untuk modal juga, atau mungkin untuk ditabung. Namun, Salman bukanlah kita yang kadar keimanannya masih merangkak naik. 3 Dirham beliau gunakan dengan amat baik, 1 Dirham untuk keperluannya satu hari itu, 1 Dirham untuk modal usaha untuk esok harinya, dan inilah 1 Dirham lagi untuk disedekahkan!
1 Dirham, ah apa besarnya 1 Dirham? Mungkin hanya puluhan ribu rupiah saja, bisa dibilang kecil untuk seorang sahabat hanya bersedakah 1 Dirham. Namun, ada yang dapat dicermati di sini. Kita lihat, dari 3 Dirham, beliau menggunakan 1 Dirham untuk modal, 1 Dirham untuk keperluaannya, dan 1 Dirham untuk sedekah, nah 1 Dirham untuk sedekah ini jumlahnya sama dengan keperluannya selama satu hari. Sekali lagi, bila dihitung mungkin akan kecil, hanya 1 Dirham atau puluhan ribu rupiah saja, namun bayangkan apabila dalam 1 hari yang didapat misalnya 3 juta rupiah, lalu ia gunakan untuk keperluannya hari itu satu juta, maka tentunya ia akan menginfakkan 1 juta pula. Nah, itulah yang perlu dilihat, sanggupkah kita bersedekah uang yang jumlahnya sama dengan kebutuhan kita?.

Milyaran Rupiah Satu Kesempatan
Beliau termasuk sahabat yang memeluk Islam di awal-awal nubuwwah, beliau juga termasuk 10 sahabat nabi yang dijamin masuk Jannah-Nya. Beliau, 'Abdurrahman ibn 'Auf adalah sahabat yang juga seorang pedagang kaya pada saat di Mekkah. Lalu, pada saat turun perintah hijrah, beliau meninggalkan semua harta kekayaannya dan sampai di Madinah dengan tangan kosong. Lalu, beliau dipersaudarakan dengan salah seorang pedagang kaya oleh Rasulullah.
Ada satu kejadian unik pada saat pertemuan keduanya, ketika itu orang Anshar tersebut menawarkan kepadanya beberapa hal, "Sesungguhnya aku mempunyai beberapa kebun, silakan kau ambil separuhnya untukmu. Lalu aku juga punya 2 rumah, biarlah satu kuberikan untukmu. Aku juga mempunya 2 istri yang cantik jelita, pilihlah seorang yang berkenan di hatimu, dan jadikanlah istrimu." Namun, 'Abdurrahman ibn 'Auf berkata, "Tidak, kuucapkan terima kasih atas kebaikanmu. Kini, yang aku minta adalah, tunjukan aku jalan menuju pasar!" "Namun setidaknya menikahlah dulu." Ujar sahabat dari Anshar ini, "Insya Allah, satu bulan lagi aku menikah."
Padahal, menurut logika, mungkin akan lebih mudah memulai usaha dengan adanya kebun, rumah, dan istri. Namun tidak begitu bagi beliau.
Maka, 'Abdurrahman ibn 'Auf pun memulai usahanya di Madinah dengan tangan kosong. Mulanya hanya sebagai kuli angkut, lalu sebagai makelar, hingga menjadi pedagang terjujur dan tesukses di sana. Ia menghancurkan kelicikan timbangan di pasar itu dengan kejujuran Islam. Tepat 1 bulan kemudian beliau bergegas menemui Nabi, kini dengan diri sebagai pedagang yang jujur dan sukses, berkata dengan tersipu bahwa ia akan menikah.

Lalu, teramat rutin pula baginya untuk berinfaq dalam jumlah yang amat besar, membagikannya ke penduduk Madinah atau untuk membiayai pasukan perang Kaum Muslimin. Bahkan jumlah infaqnya dapat mencapai 40.000 DINAR! Bila dikonversikan ke rupiah, maka pada saat ini bisa mencapai angka 64 MILYAR Rupiah!
Bayangkan saja, 1 kali kesempatan berinfaq, maka 64 MILYAR rupiah telah disedekahkannya. Subhanallah! Inilah kapasitas seorang sahabat Nabi! Inilah 'Abdurrahman ibn' Auf.

Strategi Sedekah
Abu Thalhah, demikian namanya, suatu saat ia pernah bersedekah kepada seorang musafir dengan cara yang teramat luar biasa.
Petang itu, datanglah seorang musafir ke Masjid Nabawi, ia kelaparan, lalu ia mengatakannya kepada Rasulullah, lalu Rasulullah pun berkata kepada para sahabat, "Siapa yang bersedia menjamu tamuku ini, insya Allah akan mendapat rahmat-Nya," sabda Rasulullah. Hal itu disampaikan karena beliau hanya mempunyai air minum untuk tamunya. Maka, Abu Thalhah pun bersedia. Lalu Abu Thalhah pun bergegas ke rumahnya, ditanyanya kepada istrinya, "Adakah makanan untuk tamuku ini?" Istrinya berkata, "Hanya ada sedikit, ini pun untuk anak-anak kita." Mengetahui keadaan yang demikian, maka Abu Thalhah membuat sebuah strategi.
Pada malam harinya, diajaklah musafir itu ke rumahnya, lalu ia berbincang-bincang dengan tamunya itu sembari istrinya menyiapkan makanan. Ketika itu, anak-anak Abu Thalhah sudah ditidurkan dengan keadaan lapar. Lalu tibalah sang istri membawa makanan, lalu ia mematikan lilin yang menerangi ruangan tersebut. Disodorkanlah piring dengan makanan kepada si musafir sementara satu piring lagi yang ternyata kosong kepada Abu Thalhah. Dalam keadaan gelap, si musafir itu makan dengan lahapnya, sementara Abu Thalhah berpura-pura sedang makan (karena akan tidak baik apabila seorang tamu makan sementara tuan rumahnya tidak ikut makan). Malam itu, si tamu pun beristirahat di sana dengan perut kenyang, sementara Abu Thalhan dan keluarga tidur dengan kondisi lapar.
Keesokan harinya, bergegaslah Abu Thalhah ke Masjid Nabawi untuk shalat, lalu bertemulah dengan Rasulullah, dengan tersenyum, Rasulullah berkata, "Ketahuilah Allah terpesona dengan yang kau lakukan bersama istrimu semalam." Beliau lalu membacakan ayat yang termaktub dalam surat Al-Hasyr ayat 9, "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung." (Q.S. Al-Hasyr[59] : 9)

Itulah, kisah beberapa sahabat tentang bersedekah.
Semoga menjadi motivasi bagi kita semua, menjadi semangat.


Semoga Bermanfaat

Muhammad,sebaik-baiknya manusia

محمّد, Sebaik-baik Manusia.


10/22/2009 07:55:00 PM | , ,

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) رسول الله itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) لله dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut لله." (Q.S. Al-Ahzab: 21)

محمّد رسول الله, seorang pribadi yang mulai, sosok teladan yang sempurna. Dan apabila berbicara mengenai رسول الله, maka tak cukup rasanya untuk membicarakan kesempurnaan akhlak beliau dalam note ini. Mungkin hanya akan sedikit dibicarakan beberapa akhlaqnya yang luar biasa.

Awal kenabian beliau diawali pada suatu malam di bulan Ramadhan, ketika beliau sedang menyendiri di Gua Hira yang terletak di Jabal Nur, Bukit Cahaya untuk memikirkan keadaan masyarakat Mekkah, lalu datanglah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama. Lembaran Risalah Suci pun bermula.
Lalu, kembali ke rumahnya, beliau menggigil kedinginan atas apa yang dialaminya dan beliau pun diselimuti.
Di balik selimut ia ditegur oleh Surah Al-Mudatsitr untuk kembali berdiri dan memberi peringatan.

Dan bermulalah kehidupan رسول الله
Menyampai amanah
Dari Tuhan yang memerintah cakrawala
Ditaat disembah


Lalu, banyak cobaan berat yang menghampirinya untuk menyampaikan risalah suci ini, beliau disakiti! beliau di lempari kotoran ternak! beliau dimusuhi! demi tegaknya agama ini!
Di saat sang paman yang melindunginya, Abu Thalib hampir menyerah untuk melindunginya, dan menyarankan agar beliau menuruti kaum kafir Quraisy, sebuah kalimat keimanan yang agungterucap dari mulut beliau,


Demi لله! Sekalipun matahari berada tangan kananku, dan rembulan di tangan kiriku, niscaya aku tidak akan meninggalkan dakwah ini hingga agama ini tegak atau aku mati karenanya


Beliau adalah Al-Amin, "Yang Terpercaya", beliaulah yang berhasil menyelesaikan masalah Hajar Aswad yang hampir mengakibatkan perang saudara sesama Suku Quraisy. Tetangganya begitu tentram, aman dari gangguan lisan dan tangan sebagaimana yang ia sabdakan. Bahkan unik, saat beliau dimusuhi di Mekkah, sampai saat ia hijrah, penduduk Mekkah yang memusuhinya pun masih percaya untuk menitipkan barang-barang mereka kepada beliau. Al-Amin, gelar tak sekedar gelar.

Beliau adalah teman duduk yang mengasyikkan. Candanya tak dibumbui dusta. "Wahai Pemilik Dua Telinga!" panggilan paling lucu di arab yang pernah membuat sahabat tergelak ini pernah diserukan kepada Azzubair. Penampilannya sederhana, tak ingin berbeda dari sahabatnya. Tetapi tetap saja beliau selalu rapi, wangi, dan menyejukkan mata. Beliau tidak suka orang-orang berdiri menyambut kedatangannya, beliaulah yang pertama menjenguk apabila ada yang sakit, duduk bersama kaum miskin, dan memenuhi undangan kaum sahaya.
Beliau adalah orang besar, tak ada yang membantah. Di usia dua belas tahun menjadi manajer unit usaha perdagangan internasional Abu Thalib sampai ke Syam, dan dialaha sales yang menjadi kunci sukses kafilah dagang dengan kejujurannya. Usia duapuluhan tahun menjadi pengelola utama bisnis yang diinvestasikan Khadijah. Dia, entrepreneur dengan sifat nabawi: shiddiq (jujur), amanah (kapabel), fathanah (smart), dan tabligh (informatif); sifat-sifat yang menjadi rujukan teori entrepreneurship modern.

Beliau adalah panglima perang yang agung, administrator militer tak ada bandingannya dalam sejarah. Sepuluh tahun di Madinah, 30-an ghazwah beliau pimpin sendiri di sampinh 300-an sariyah (detasemen) yang beliau bentuk dan berangkatkan. Napoleon Bonaparte ataupun George Washington pun tak ada yang dapat menyamainya.

Beliau adalah orator dengan daya tahan sekaligus daya mempertahankan massa yang luar biasa. Menjelang wafat, beliau pernah berkhutbah setelah Shubuh sampai Dzuhur, dilanjutkan lagi sampai Ashar, lalu dilanjutkan lagi sampai Maghrib, tanpa ada seorang pun yang merasa bosan, tertidur, mengantuk, bahkan bersuara kecuali untuk memenuhi seruan beliau. Bahkan sebagaimana yang dituturkan Tsauban dalam haditsnya, para sahabat begitu terbawa suasana sendu, semua mencucurkan air mata, seolah khutbah itu merupakan salam perpisahan dari sang kekasih tercinta. Apakah seorang Soekarno -yang dianggap sebagai orator yang hebat- dapat menyamainya?

Pemimpin besar ini, amat besar rasa malunya. Kalau dalam kepungan Ahzab (perang Khandaq) sahabat hanya mengganjal perutnya dengan satu batu, tetapi beliau mengganhal perutnya dengan dua batu. Tapi di sat itulah, di sat, keadaan paling genting, ketika Madinah terjepit menunggu sapuan pasukan sekutu 'Ahzab', beliau adalah orang yang paling tenang dan menenangkan, bahkan memberikan motivasi dengan sesuatu yang 'mustahil' menurut pertimbangkan akal.

Al-Barra bin 'Adzib, menceritakan hari-hari sulit saat penggalian Khandaq, "Di saat kami menggali parit, di beberapa tempat, terdapat batu-batu besar yang tidak dapat hancur oleh cangkul. Sehingga dilaporkanlah hal itu kepada رسول الله. Beliau datang, mengambil cangkul, dan bersabda, "bismillah", lalu beliau pun menghantamkan cangkul itu dengan sekali hantaman sehingga memercikan api.

"Allahu Akbar! Aku diberi kunci-kunci Syam. Demi لله, aku benar-benar melihat istananya tang bercat merah saat ini." Lalu beliau menghantam bagian batu yang lain, dan kembali bersabda, "Allahu Akbar! Aku diberi tanah Persia. Demi لله, aku dapat melihat istana Mada'in yang berwarna putih saat ini." Dan ketiga kalinya beliau bersabda, "Allahu AKbar! Aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi لله, dari tempat ini aku bisa melihat pintu gerbang-pintu gerbang Shan'a!"

Dan, begitulah, kemuliaan terus-menerus mengiringi setiap langkah رسول الله sejak sebelum nubuwwah.
Lalu apa sebenarnya yang didustakan oleh kaum Musyrikin dari beliau?
"mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat لله" (Q.S. Al-An'am: 33)

Luhur budi pekerti رسول الله membuat kagum sebagian tokoh non-muslim.
Thomas Sarlyle (1795-1881) seorang sejarawan dan penulis essay asal Skotlandia, menulis,


Sungguh tidak mungkin محمّد itu seorang pendusta. Dan kalaupun ia berbuat dusta, dia tak akan mampu membawa agama yang menakjubkan ini.


Gustave Lebon, seorang sejarawan besar mengatakan,


Kalau seorang dinilai dari karya-karyanya, maka dapat dikatakan, bahwa محمّد adalah pribadi terbesar yang dikenal sejarah


Lamartine (1790-1869), seorang sastrawan dan filsuf besar Perancis, mengatakan,


Jika kebenaran tujuan dan kecilnya alat serta hasil-hasil yang menakjubkan merupakan tiga ukuran kebesaran manusia, siapakah yang berani membandingkan محمّد dengan orang bsar dalam sejarah modern?


Subhanallah.

Dalam kehidupan rumah tangga pun, beliau sungguh luar biasa, pernah suatu saat, Anas bin Malik berkata, "Sepuluh tahun aku berada di rumah رسول الله, dan selama itu pun aku tidak pernah mendengar perkataan kasar dan pertengkaran."
Beliau juga seorang suami yang sangat mencintai istrinya, beliau memanggil Aisyah dengan sebutan Khumaira (yang kemerahan roman mukanya), 'Aisy ('Aisyah Kecil) dan panggilan sayang lainnya di dalam
rumah. Di sela masa sibuknya memimpin kaum muslimin, beliau sempat menambal baju, membersihkan terompah, dan menggiling tepung serta memerah susu untuk santapannya.

Beliau tidak kaku, begitu luwes pemimpin besar ini menjadi ayah yang menimang Ibrahim sang putra. "Lihatlah 'Aisy, bukankah Ibrahim mirip denganku?" tanyanya suatu ketika. Ketika Ibrahim dipanggil oleh Allah, beliau dalam posisi sebagai ayah yang penyayang, mengatakan, "Mengalir air mata bersedih hati, namun kami tak mengatakan yang Allah murkai, dan sungguh dengan kematianmu wahai Ibrahim, kami begitu bersedih." (HR Muslim)

Bahkan pada saat beliau wafat, kesedihan besar melanda kaum muslimin, sampai-sampai Bilal bin Rabah, sang Muadzin pertama, meminta izin kepada Abu Bakr agar tidak lagi mengumandangkan adzan. Karena, pada saat sampai pada kalimat "Asyhadu Anna محمّد..." Bilal tak kuasa menahan tangisnya atas kepergian orang yang amat dicintainya. Tetapi, pada suatu saat, Bilal kembali mengumandangkan adzan pada saat sampai pada kalimat tadi, maka seketika orang-orang yang mendengarnya pun menangis, teringat akan رسول الله, orang yang amat dicintainya.


Begitulah, رسول الله, seorang yang mulia...

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu
'Kan pasti mengalir air mataku
Karena pancaran ketenanganmu

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukucup tanganmu
Moga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu

Ya رسول الله, Ya Habiballah
Tak pernah kutatap wajahmu
Ya رسول الله, Ya Habiballah
Kami rindu padamu

Allahumma sholli 'alaa محمّد
Ya Robbi sholli 'alaihi wassalim

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kudakap dirimu
Tiada kata yang dapat aku ucapkan
Hanya Tuhan saja yang tahu

Kutahu cintamu kepada ummat
Umati umati
Kutahu bimbangnya kau tentang kami
Syafa'atkan kami

Ya رسول الله, Ya Habiballah
Terimalah kami sebagai umatmu
Ya رسول الله, Ya Habiballah
Kurniakanlah syafa'atmu

Sebuah Kisah Nyata Tentang Sahabat Sejati. (Bahkan Mungkin Lebih dari itu)

Abu Bakr: Sebuah Kisah Nyata Tentang Sahabat Sejati. (Bahkan Mungkin Lebih dari itu)


11/23/2010 10:13:00 PM | , , , , , Semoga Bermanfaat




Takkan kau temui, takkan kau temui di pelosok dunia manapun, di kolong bumi, di seantero langit, sahabat seperti orang ini. Takkan kau temui, takkan kau temui sahabat macam orang ini, bagaimana tidak? Beliau ini yang membenarkan ketika yang lain tak percaya bahkan menghina Sang Manusia Terbaik, beliau yang banyak keutamaannya, beliau yang paling banyak menyerahkan apa yang dimilikinya demi Allah dan Rasul-Nya, beliau sang sahabat sejati Sang Rasul, beliaulah "The Successor". Inilah beliau, "Yang Berkata Benar", Abu Bakr Ash-Shiddiq.

Kebaikannya telah ditunjukan sebelum memeluk Islam. Ia adalah seorang yang dikenal karena kedermawanannya, seorang pedagang sukses, seorang yang wibawa, berkedudukan tinggi di kaum Quraisy. Beliau terhitung masih saudara Rasulullah SAW., bertemu nasabnya pada kakeknya, Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai.

Beliau memberikan kontribusi yang teramat besar bagi Islam, dari dakwah fardhiyahnya lah orang-orang terbaik seperti Abdurrahman ibn 'Auf, Saad ibn Abi Waqqash, Utsman ibn 'Affan, Zubair ibn Awwam, serta Thalhah ibn Ubaidillah memeluk Islam. Beliau juga dikenal sebagai pembebas para budak, yang paling dikenal tentunya ketika membebaskan Bilan ibn Rabah, ketika ia disiksa di sebuah lapang tandus, serta ditimpa batu besar yang teramat panas terasa, disiksa pula oleh orang-orang Quraisy, terutama Umayyah ibn Khalaf yang acapkali menyiksanya kerana keteguhan imannya. Abu Bakr kemudian menebusnya, kemudian memerdekakannya.

Abu Bakr pula yang menemani Sang Rasul ketika hijrah dari Mekkah ke Madinah, ia pula mengalami kejadian luar biasa di Gua Tsur saat beristirahat sekaligus berupaya bersembunyi dari kejaran kafir Quraisy.

Di sana, di dalam gua yang gelap itu, terjadilah peristiwa yang takkan terhapus sejarah, kisah bukti kesetiaan beliau kepada Rasulullah SAW.
Di sana, di dalam gua yang di mulutnya terdapat sarang lelabah, ia sandarkan kepala beliau SAW, diatur agar beliau nyaman, agar beliau tetap dapat beristirahat. Namun, ia lihat ada binatang berbisa keluar dari lubang-lubang kecil di sana, maka ditutuplah lubang itu agar tak keluar dan melukai orang yang berada di sandarannya, tetapi ada satu binatang lagi yang keluar dari lubang kecil lain di gua itu, maka ia tutup rapat dengan anggota tubuhnya yang lain, tersakitilah ia oleh binatang-binatang tersebut, namun -aduhai- beliau bahkan menahan untuk tak berteriak kesakitan demi sang Rasul tetap tertidur di dalam istirahatnya.
Di sana, di dalam gua yang terdapat sarang burung di luarnya, kemudian air mata menetes -sayangnya- membangunkan sang Rasul, terbangunlah, dan beliau SAW melihat sahabatnya yang telah berpeluh keringats serta terlukai. Lalu, terekamlah dalam Al-Quran sebuah ucapan indah yang telinga kita telah akrab mendengarnya, "sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: 'Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.'" (Q.S. At-Taubah [9]: 40)

Kawan, itulah sebaik-baik sahabat dalam dekapan ukhuwah, peristiwa di atas hanyalah peristiwa kecil di antara peristiwa-peristiwa yang menunjukkan keutamaan beliau.

Ia, adalah orang yang Umar ibn Al-Khaththab pun tak bisa mengalahkannya, pernah di sebuah peperangan, Perang Ahzab namanya ketika itu seperti yang diriwayatkan Umar ibn Al-Khaththab, bahwa ketika itu, Ummat Islami di Madinah dikepung dari segala penjuru, baik dari dalam dengan berkhianatnya Yahudi Madinah, juga dari luar dengan kafir Quraisy yang bersekutu dengan kaum-kaum lain yang membenci Islam, membutuhkan banyak pengorbanan baik harta maupun jiwa, maka dianjurkanlah oleh Rasulullah untuk beramal menyumbangkan hartanya. Ketika itu Umar datang membawa hartanya, ketika ditanya oleh Rasulullah tentang apa yang ditinggalkan untuknya dan keluarganya, Umar menjawab bahwa ia meninggalkan separuh hartanya untuknya dan keluarganya. Lalu, tak lama kemudian, datanglah Abu Bakr, dan kita ingat sendiri kisah ini, ketika ditanya tentang apa yang ia tinggalkan untuknya dan keluarganya, maka sebuah kalimat tinggi penuh keimanan terlafazhkan dari lisannya, "Cukup bagiku Allah dan Rasul-Nya." Subhanallah! begitu dahsyatnya beliau, menyumbangkan semuanya demi Islam. Kontribusi yang amat besar.

Dan kini, mari kita mengikuti sebuah kisah tinggi, sebuah perilaku yang lahir dari kepahaman dan kebeningan nurani seorang manusia. Sebuah kisah tinggi itu adalah...


Ketika itu, Sang Nabi menerima wahyu. Wahyu yang menggembirakan semua shahabat. Beliau membacakannya dari atas mimbar, "Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Ia adalah Maha Penerima Taubat."

Semua sahabat tersenyum, lega, bahagia, dan penuh syukur. Tapi dari depan mimbar, Abu Bakr tiba-tiba berteriak dengan isak, "Ya Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku! Demi Allah kutebus engkau dengan ayah dan ibuku!" Dan ia terus menangis. Para sahabat terheran-heran yang teramat dahsyat. Mereka menatap tajam dengan mulut yang tanpa disadari setengah menganga. Tapi Rasulullah tersenyum padanya.

"Seorang hamba diminta untuk memilih", beliau Shalallahu 'Alaihi wa Sallam melanjutkan sabda, "Antara perhiasan dunia menurut kehendaknya, atau apa yang ada di sisi Allah. Dan dia memilih apa yang ada di sisi Allah." Tangis Abu Bakr semakin keras. "Demi Allah ya Rasulullah, ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu!"
Hingga kata perawi hadits ini, orang-orang bergumam dalam hati, "Lihathal orangtua ini! Rasulullah mengabarkan tentang kemenangan dan seorang hamba yang diberi pilihan, tapi dia berteriak-teriak tak karuan!"

Surat An-Nashr serta segala yang Rasulullah katakan ditangkap secara jelas dan pasti oleh Abu Bakr sebagai satu isyarat, bahwa ajal sang Nabi telah sangat dekat! Maka ia menangis. Maka ia berteriak. Hanya dia. Hanya dia yang mengerti.

Rasulullah masih tersenyum. "Sesungguhnya orang yang paling banyak membela dan melindungiku dengan pergaulan dan hartanya adalah Abu Bakr", kata beliau. "Andaikan aku boleh mengambil kekasih selain Rabbku, niscaya aku akan mengambil Abu Bakr sebagai Khaliil-ku. Tetapi ini adalah persaudaraan Islam dan kasih sayang. Semua pintu yang menuju Masjid harus ditutup, kecuali pintunya Abu Bakr."

                                                                                        ***

"Tiada hari yang lebih bercahaya di Madinah daripada hari ketika Rasulullah datang kepada kami. Dan tidak ada hari yang lebih gelap dan muram daripada saat beliau wafat, ujar Anas ibn Malik.

"Sesungguhnya beberapa orang munafik beranggapan bahwa Rasulullah meninggal dunia!", kata sosok tinggi besar itu. Banyak orang berhimpun di sekililingnya, semua mengenali, orang yang berbuat gaduh ini adalah 'Umar ibn Al Khaththab. "Sesungguhnya beliau tidak wafat!", ia terus berteriak dengan mata merah berkaca-kaca dan berjalan ke sana ke mari. "Sesungguhnya beliau tidak mati!" Beliau hanya pergi menemui Rabbnya seperti Musa yang pergi dari kaumnya selama 40 hari, lalu kembali lagi pada mereka setelah dikira mati! Demi Allah, Rasulullah pasti akan kembali! Maka tangan dan kaki siapapun yang mengatakan beliau telah meninggal harus dipotong!"

'Umar masih terus berteriak-teriak bahkan menghunus pedang ketika Abu Bakr datang dan masuk ke bilik 'Aisyah tempat di mana jasad Sang Nabi terbaring. Disibaknya kain yang menyelubungi tubuh suci itu, dipeluknya Sang Nabi dengan tangis. "Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu...", bisiknya. "Allah tidak akan menghimpun dua kematian bagimu. Kalau ini sudah ditetapkan, engkau memang telah meninggal." Abu Bakr mencium kening Sang Nabi. "Alangkah wanginya engkau di kala hidup, alangkah wangi pula engkau di saat wafat."

'Umar masih mengayun-ayunkan pedang ketika dia keluar. "...Kaki dan tangannya harus dipotong! Dipotong!", teriak 'Umar.

"Duduklah hai 'Umar!", seru Abu Bakr. Tapi 'Umar tak kunjung duduk. Orang-orang, dengan kesadaran penuh mulai mendekati Abu Bakr dan meninggalkan 'Umar. "Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sungguh Muhammad telah wafat. Tapi barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah hidup kekal!" Abu Bakr lalu membaca ayat yang dibaca Mush'ab ibn 'Umair menjelang syahidnya, saat tubuh yang menghela panji Uhud dibelah-belah dan tersiar kabar bahwa Rasulullah terbunuh.

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Q.S. Ali Imran [3]: 144)

'Umar jatuh terduduk mendengar ayat ini. Pedangnya lepas berdentang dari genggaman. Dengan gumaman diselingi isak, disimak dan dilafalkannya ayat yang dibaca Abu Bakr. Demikian juga yang lain. Mereka membaca ayat itu. Seolah-olah ayat itu baru saja turun. Seolah-olah mereka tak pernah mendengar ayat ini sebelum Abu Bakr membacakannya.

Maka inilah Abu Bakr. Seorang yang mata batinnya begitu jernih. Dia yang paling berduka, menangis, dan histeris ketika Sang Nabi memberi isyarat tentang dekatnya saat berpisah. Namun, di saat kekasih yang dicintainya itu benar-benar pergi, Abu BAkr menjadi orang yang paling waras, paling tenang, dan paling mententeramkan. Abu Bakr menyelamatkan kaum muslimin dari keterguncangan massal yang bisa berakibat fatal.

                                                                                               ***

Maka, kawan, itulah beliau, Abu Bakr Ash-Shiddiq, sebaik-baik sahabat.

Semoga, kita semua mendapat sahabat yang terbaik bagi kita, yang tidak hanya membenarkan, tapi juga mengoreksi kesalahan kita, yang rela berkorban, yang selalu mengingatkan. Dan semoga kita pun menjadi sahabat terbaik baginya.

Dalam Dekapan Ukhuwah, semoga kita mendapatkannya.



Di salah satu gugusan dari banyaknya gugusan di semesta raya, 16 Zulhijjah 1431 H.

Firman Maulana (30-12-1414)/dari berbagai sumber

Mempesona Imannya...



Di suatu subuh, selesai shalat berjamaah, Rasulullah duduk menghadap para sahabat, semua mata tertuju pada beliau, tak sabar menanti kata-kata hikmah dari sosok mulia ini.
Lalu beliau shalallahu'alaihi wa salam pun berkata, "Wahai manusia! Siapakah yang paling mempesona imannya?"
Para sahabat dengan serentak menjawab, "Malaikat ya Rasulullah!"
Rasulullah lalu berkata, "Benar.. tapi bukan itu yang aku maksud. Bagaimana mungkin malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka hanya berbuat apa yang diperintahkan Allah."

Lalu para sahabat kembali mencoba menjawab, "Para Nabi dan Rasul-Nya, ya Rasulullah!"
"Benar, tapi bukan itu yang aku maksud. Karena bagaimana mungkin Nabi dan Rasul tidak beriman kepada Allah sedangkan wahyu dari-Nya langsung turun pada mereka," jawab Rasulullah.

Dengan kebingungan, para sahabat mencoba kembali menjawab dengan malu-malu, "Kalau begitu, kami ya Rasulullah, sahabat-sahabat engkau."
"Benar, tapi bukan itu yang aku maksud. Tentu saja kalian beriman kepada Allah karena aku berada di tengah-tengah kalian."

Akhirnya para sahabat tidak berusaha kembali menjawab dan berkata, "Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu."

Keadaan menjadi hening. Semua menanti jawaban dari Rasulullah terkait siapakah yang paling mempesona imannya. Hening sampai akhirnya Rasulullah berkata, "Mereka adalah orang-orang yang datang jauh sesudah kalian. Mereka tak pernah melihatku, tak pernah berjumpa denganku, tapi mereka mengimaniku. Mereka membaca Alquran dan mengimani dan mengamalkan isinya. Mereka membelaku sama seperti kalian gigih berjuang. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan saudaraku."


***
Wahai, berkali-kali saya membaca dan mendengar tentang riwayat ini, mulanya ada rasa takjub karena insya Allah kitalah yang disebut oleh Rasulullah sebagai orang yang paling mempesona imannya, paling ajaib imannya. Karena, ya! Tak pernah sedetikpun kita bertemu dan bertatap muka dengan beliau, tapi kita mengimani beliau, megimani dan mengamalkan Alquran. 
Wahai, tapi sepekan yang lalu ketika riwayat ini dibacakan kembali, mengalirlah air mata, menangis malu karena merasa iman ini tidak ada apa-apanya, masih jauh dengan para sahabat, jauh...
Ah, riwayat ini benar-benar menjadi sebuah muhasabah bagi diri, apakah sudah iman ini mempesona? Padahal amalan-amalan yang dilakukan belumlah banyak. Apa kabar dengan tilawah harian yang bahkan masih sulit untuk sampai satu juz per hari. Apa kabar dengan hafalan Alquran yang bahkan satu juz pun belum hafal. Apa kabar dengan zakat, infaq, shadaqah yang kadang masih ada hitungan di dalamnya. Apa kabar dengan Shalat berjamaah yang kadang sulit diri ini untuk menggerakkan badannya shalat berjamah di mesjid. Apa kabar dengan qiyamul lail yang kadang tak untuk sekedar bangun pun sulit. Apa kabar dengan dhuha yang kadang ada rasa malas menghampiri. Apa kabar dengan shaum sunnah yang lama tak diamalkan. Apa kabar dengan ucapan, perilaku yang kadang tak pantas untuk dilakukan.
Wahai Rasul Allah, sungguh diri ini malu atas iman yang belumlah seberapa.
Wahai Rasul Allah, sungguh diri ini merinduimu, merinduimu meski tak pernah bertemu denganmu..
Ingin rasanya seperti para sahabat yang berjumpa denganmu, seperti 'Abu Bakr yang paling tak pernah ragu sedikitpun kepadamu, seperti 'Umar yang Islamnya adalah kemenangan, seperti 'Utsman yang tak ragu untuk berinfaq meski dalam jumlah yang luar biasa banyaknya, seperti 'Ali yang cerdas dan gagah di medan perang, dan seperti sahabat-sahabatmu yang lain..
Ingin rasanya seperti sahabat-sahabatmu..
Ya Rasulullah, shalawat dan salam tercurah padamu. Semoga kami termasuk ummatmu yang kau sebut bahkan saat engkau akan kembali pada-Nya, "Ummati.. ummati.. ummati.." Ya Rasulullah sebegitu besarnya cintamu pada ummat, maka sungguh kami pun mencintaimu.
Maka teringatlah aku dengan Anas ibn Malik yang berujar saat Rasulullah berkata bahwa engkau akan bersama orang yang kau cintai, "Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka."
Dan akhirnya, semoga riwayat di atas menjadi pemicu yang kuat untuk meningkatkan iman, meningkatkan taqwa dan amalan-amalan.
Wa Allahu alam.
Ya Rasulullah...
***
Firman Maulana, 10 Muharram 1434/ 24 November 2012,
di waktu dhuha.

Senin, 11 Maret 2013

persahabatan dalam islam

Persahabatan dalam Islam

November 11, 2012 at 8:00 pm
Bismillahirahmanirrahim, insya Allah kali ini kami akan berbagi tentang adab dan keutamaan menjalin hubungan dengan orang lain.
Persahabatan antara seseorang dengan orang lain bisa menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, namun sebaliknya bisa juga menjauhkan diri dari-Nya. Persahabatan adalah buah dari kebaikan akhlaq, sedangkan perseteruan adalah buah dari buruknya akhlaq. Kebaikan akhlaq adalah akar dari kasih sayang, sementara keburukan akhlaq adalah akar dari kebencian, dengki, dan permusuhan. Buah dari akhlaq adalah segala sesuatu yang bersifat terpuji dan hal inilah yang dapat membawa kita ke surga. Dalam salah satu riwayat disebutkan, “Sikap yang akan membawa banyak manusia masuk ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan berakhlaq mulia.” [HR. Bukhari Muslim dari Abi Hamid]
Dalam hadits lainnya disebutkan, “Sesuatu yang terberat dan pernah diletakkan dalam Mizan (timbangan amal) adalah akhlaq yang mulia.” [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu]
Pada saat persahabatan dilandasi oleh cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla maka keutamaannya menjadi sangat tinggi& dan mulia. Dari Al-Quran kita bisa mengambil pelajaran, “Sekiranya saja engkau belanjakan seluruh apa yang ada di bumi, niscaya engkau tidak akan dapat menundukkan qalbu mrk. Akan tetapi hanya Allah-lah yang mampu menyatukan qalbu mereka.” [QS. Al-Anfaal: 63] Dalam Surat Ali-Imran 103 pun Allah melarang kita bercerai-berai dan bertikai.
“Sesungguhnya orang yg plng baik dkt kdudukanny dgnku diantara kalian adl yg paling baik akhlaqnya & senantias brsikp tdk sombong kpd sesama. Orang2 seperti itu trmsuk klompok yg mencintai dan yg dicintai” HR. Thabrani dr Jabir ibn Abdullah. “Seorang mukmin adalah siapa yg gemar mengasihi dan dikasihi oleh sesamanya. Tiada kebaikan di dalam diri seseorang yg tdk gemar mengasihi.”
“Siapa saja yg dikehendaki baik oleh Allah, niscaya akan dikaruniai seorang sahabat yg soleh. jika ia sdh lupa, maka sahabatnya yg soleh mengingatkannya. dan jika ia sdg sadar maka sahabatnya yg soleh itu mau membantu menjaga serta mengawasinya.” “Ssungguhnya Allah swt berfirman pd hari berbangkit nanti,”Dimanakah mereka yg saling mngasihi krn Aku? Pada hari ini tdk ada naungan kecuali naunganKu. Aku akan melindungi mereka dalam naunganKu.” HR. Muslim dari Anas ibn Malik ra
“Pada saat seseorang berkunjung kpd sahabatnya krn Allah swt, maka Allah swt akan mengirimkan malaikat dgn diam2 kpdnya untuk menanyakan ‘Apa yg akan engkau lakukan? ‘Lalu ia menjawab, ‘Aku amu mengunjungi saudaraku.’ Malaikat brtanya kembali,’ Apakah engkau ada keperluan? jawabnya, ‘Tidak ada.’ Malaikat melanjutkan, ‘Apakah krn ia ada hub kerabat dgnmu?’ Jawabnya lagi, ‘Tidak.’ Sambung malaikat, ‘Apakah krn ia telah memberikan sesuatu kpdmu?’ Jawabnya, ‘Tidak.’ Tanya malaikat kemudian, ‘Kalau begitu krn apa engkau mengunjunginya?’ ia menjawab,’Aku mengasihinya krn Allah swt..’Lalu malaikat berkata kepadanya,’Sesungguhnya Allah swt mengutus aku kpdmu untuk menyampaikan berita bahwa Dia mengasihimu seperti engkau mengasihinya, dan bahwa surga akan dianugerahkan kepadamu.” HR. Muslim dari Abu Hurairah ra
Rasulullah Saw bersabda, “Brsahabatlah dgn orang yg dpt mengingatkan kalian kpd Allah swt. yg kata2nya menambahkah amal kalian dan yg membangkitkan kegairahan sanubarimu untuk beramal bagi kepentingan akhirat ketika kalian memandang mereka”
Dalam menjalin persahabatan tdk semua manusia cocok untuk dijadikan sahabat, “Manusia itu mengikuti kebiasaaan sahabat dekatnya. Oleh krn itu, hendaklah salah seorang dr kalian memikirkan siapa yg akan dijadikan shbt” HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. orang yg akan kita ikat dgn tali persahabatan harus memiliki 5 perkara pada dirinya: 1. Akal, 2. Akhlaq yg baik, 3. Bukan pengemar maksiat, 4. bukan ahli bid’ah, 5. tidak bersikap haus dgn urusan dunia. Akal adalah pokok, seseorang yg menggunakan akalnya memahami apa yg dilakukannya, sementara yg tdk mnggunakannya tdk mengerti haq dan bathil Al-Junaid rahimahullah berkata:”Prsahabatan dgn orang fasik yg brakhlaq baik lebih aku sukai drpd prsahabatan dgn orang trpelajar namun berakhlaq buruk..”
Alqamah al-Atharidi berwasiat kod anak laki2nya, “Wahai anakku, apabila engkau merasa perlu u/ brsahabat, maka bersahabatlah dgn orang yg akan menyalamatkanmu jika engkau menyelamatkannya, yg akan meningkatkan keindahan akhlaqmu jika engkau bersahabat dgnnya, yang akan membantumu ketika engkau berada dalam kesulitan, apabila engkau mengulurkan tanganmu kpdnya, ia akan mengulurkan tangannya kpdmu. ia akan membantumu dlm perbuatan baik yg engkau kerjakan. ia akan menghilangkan keburukannmu apabila ia melihatnya. ia akan memberimu apabila engkau menginginkan sesuatu darinya. ia akan memulai pembicaraan dgnmu ketika engkau hanya berdiam diri. ia akan menolongmu ketik bencana menimpa dan menyakitkanmu. ia akan mendukungmu dalam rencana perbuatan baikmu ia akan menyampaikan perbedaan pendapatnya, dgn pendapatmu di tempat trhormat ketika perbedaan pendapat diantara kalian suatu ketika muncul.
Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Sahabatmu yang sejati adalah siapa yang setia bersamamu, yang rela menderita demi kebaikanmu, yang mendatangimu apabila engkau ditimpa musibah dan yang bersedia berkorban demi menolongmu. Abu Dzarr al-Ghiffari radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kesendirian lebih baik daripada sahabat yang berakhlaq buruk dan sahabat yang berakhlaq baik lebih baik daripada kesendirian.
Dari semua paparan singkat di atas, dapatlah kita menarik beberapa hikmah penting]
  1. Bersahabatlah atas dasar keimanan kepada Allah Ta’ala
  2. Jadikan akhlaq mulia sebagai landasan pokok dalam menjalin persahabatan
  3. Pilah dan pilihlah orang yang akan engkau jadikan sahabat
  4. Karena kita tinggal di negeri yang mayoritas non-muslim, jika kita berteman dengan orang kafir, berkelakukanlah dengan baik namun tanpa mencintainya.
Wallahu A’lam.

99 asmaul husna

99 asmaul husna dan artinya





99 Asmaul husna dan artinya

1. (Ar Rahman) Artinya Yang Maha Pemurah

2. (Ar Rahim) Artinya Yang Maha Mengasihi / Penyayang

3. (Al Malik) Artinya Yang Maha Menguasai / Merajai

4. (Al Quddus) Artinya Yang Maha Suci

5. (Al Salam) Artinya Yang Maha Selamat

6. (Al Mukmin) Artinya Yang Maha Melimpahkan Keamanan

7. (Al Muhaimin) Artinya Yang Maha Memelihara / Mengawasi

8. (Al Aziz) Artinya Yang Maha Berkuasa / Ynag Dapat Mengalahkan

9. (Al Jabbar) Artinya Yang Maha Perkasa / Menundukkan Segalanya

10. (Al Mutakabbir) Artinya Yang Mempunyai kebesaran.

11. (Al Khaliq) Artinya Yang Maha Pencipta

12. (Al Bari) Artinya Yang Maha Menjadikan / Melepaskan

13. (Al Musawwir) Artinya Yang Maha Pembentuk

14. (Al Ghaffar) Artinya Yang Maha Pengampun

15. (Al Qahhar) Artinya Yang Maha Memaksa

16. (Al Wahhab) Artinya Yang Maha Penganugerah / Pengkarunia

17. (Al Razzaq) Artinya Yang Maha Pemberi Rezeki

18. (Al Fattah) Artinya Yang Maha Pembuka

19. (Al Alim) Artinya Yang Maha Mengetahui

20. (Al Qabidh) Artinya Yang Maha Pengekang / Menyempitkan Rezeki

21. (Al Basit) Artinya Yang Maha Melimpah Nikmat / Melapangkan Rizki

22. (Al Khafidh) Artinya Yang Maha Perendah / Merendahkan Derajat

23. (Ar Rafik) Artinya Yang Maha Peninggi / Meninggikan Derajat

24. (Al Mu’izz) Artinya Yang Maha Menghormati / Memuliakan

25. (Al Muzill) Artinya Yang Maha Menghina

26. (As Sami) Artinya Yang Maha Mendengar

27. (Al Basir) Artinya Yang Maha Melihat

28. (Al Hakam) Artinya Yang Maha Mengadili / Menetapkan Hukum

29. (Al Adil) Artinya Yang Maha Adil

30. (Al Latif) Artinya Yang Maha Lembut/Halus

31. (Al Khabir) Artinya Yang Maha Waspada

32. (Al Halim) Artinya Yang Maha Penyabar

33. (Al Azim) Artinya Yang Maha Agung

34. (Al Ghafur) Artinya Yang Maha Pengampun

35. (Asy Syakur) Artinya Yang Maha Bersyukur / Berterima Kasih

36. (Al Ali) Artinya Yang Maha Tinggi

37. (Al Kabir) Artinya Yang Maha Besar

38. (Al Hafiz) Artinya Yang Maha Memelihara

39. (Al Muqit) Artinya Yang Maha Menjaga / Memberikan Makan

40. (Al Hasib) Artinya Yang Maha Penghitung

41. (Al Jalil) Artinya Yang Mempunyai Kebesaran

42. (Al Karim) Artinya Yang Maha Mulia

43. (Ar Raqib) Artinya Yang Maha Waspada / Mengawasi

44. (Al Mujib) Artinya Yang Maha Pengkabul

45. (Al Wasik) Artinya Yang Maha Luas

46. (Al Hakim) Artinya Yang Maha Bijaksana

47. (Al Wadud) Artinya Yang Maha Mengasihi / Penyayang

48. (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia

49. (Al Baith) Artinya Yang Maha Membangkitkan Semula

50. (Asy Syahid) Artinya Yang Maha Menyaksikan

51. (Al Haqq) Artinya Yang Maha Benar

52. (Al Wakil) Artinya Yang Maha Pentabir / Mengurusi

53. (Al Qawiy) Artinya Yang Maha Kuat

54. (Al Matin) Artinya Yang Maha Teguh / Kokoh

55. (Al Waliy) Artinya Yang Maha Melindungi

56. (Al Hamid) Artinya Yang Maha Terpuji

57. (Al Muhsi) Artinya Yang Maha Penghitung

58. (Al Mubdi) Artinya Yang Maha Pencipta dari Asal / Memulai

59. (Al Muid) Artinya Yang Maha Mengembalikan

60. (Al Muhyi) Artinya Yang Maha Menghidupkan

61. (Al Mumit) Artinya Yang Mematikan

62. (Al Hayyu) Artinya Yang Maha Hidup

63. (Al Qayyum) Artinya Yang Hidup serta Berdiri Sendiri

64. (Al Wajid) Artinya Yang Maha Penemu

65. (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia

66. (Al Wahid) Artinya Yang Maha Esa

67. (Al Ahad) Artinya Yang Tunggal

68. (As Samad) Artinya Yang Menjadi Tumpuan

69. (Al Qadir) Artinya Yang Maha Berupaya

70. (Al Muqtadir) Artinya Yang Maha Berkuasa

71. (Al Muqaddim) Artinya Yang Maha Mendahului

72. (Al Muakhir) Artinya Yang Maha Mengakhiri / Penangguh

73. (Al Awwal) Artinya Yang Pertama

74. (Al Akhir) Artinya Yang Akhir

75. (Az Zahir) Artinya Yang Zahir

76. (Al Batin) Artinya Yang Batin / Tak Kelihatan Dzatnya

77. (Al Wali) Artinya Yang Memerintah / Menguasai

78. (Al Muta Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia

79. (Al Barr) Artinya Yang banyak membuat kebajikan / Kebaikan

80. (At Tawwab) Artinya Yang Menerima Taubat

81. (Al Muntaqim) Artinya Yang Maha Memberi Hukuman / Siksaan

82. (Al Afuw) Artinya Yang Maha Pengampun

83. (Ar Rauf) Artinya Yang Maha Pengasih serta Penyayang

84. (Malikul Mulk) Artinya Pemilik Kedaulatan Yang Kekal / Memiliki Kerajaan

85. (Dzul Jalal Wal Ikram) Artinya Yang Mempunyai Keagungan dan Kemuliaan

86. (Al Muqsit) Artinya Yang Maha Adil

87. (Al Jami) Artinya Yang Maha Mengumpulkan

88. (Al Ghaniy) Artinya Yang Maha Kaya

89. (Al Mughni) Artinya Yang Maha Memberi Kekayaan

90. (Al Mani) Artinya Yang Maha Pencegah / Mempertahankan

91. (Al Darr) Artinya Yang Mendatangkan Mudharat / Bahaya

92. (Al Nafi) Artinya Yang Memberi Manfaat

93. (Al Nur) Artinya Memberi Cahaya

94. (Al Hadi) Artinya Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk

95. (Al Badi) Artinya Yang Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya

96. (Al Baqi) Artinya Yang Maha Kekal

97. (Al Warith) Artinya Yang Maha Mewarisi

98. (Ar Rasyid) Artinya Yang Maha Pandai

99. (As Sabur) Artinya Yang Maha Penyabar / Sabar

Minggu, 10 Maret 2013

menerapkan sopan santun dalam pergaulan

menerapkan sopan santun dalam pergaulan

Sopan santun dalam pergaulan merupakan salah satu prasyarat terciptanya manusia beradab. Setiap lingkungan merupakan tempat menerapkan berbagai konsep kehidupan untuk dapat mempertahankan eksistensi diri sebagai makhluk Tuhan.
Dalam mempertahankan eksistensi ini, maka setiap lingkungan masyarakat menerapkan berbagai tata aturan untuk masyarakatnya. Begitu juga halnya dalam pergaulan antar manusia, mereka harus menerapkan adab sopan santun dalam pergaulan.
Adab sopan santun ini memberikan kesempatan manusia untuk mengeksplorasi kompetensi dirinya. Dengan demikian, maka keberperanannya dalam kehidupan dapat semakin jelas. Dan, kehidupan sosialnya di masyarakat lebih tertata serta efektif.
Siapa Diri Kita = Bagaimana Pola Hidup Kita
Masyarakat menilai kita dari kiprah kita dalam kehidupan. Walaupun tidak mengenal kita secara khusus, begitu mereka mengetahui kiprah kita dalam kehidupan, maka semua orang mengetahui siapa sebenarnya kita.
Sopan santun dalam pergaulan merupakan salah satu poin penting dalam proses pengenalan eksistensi diri kita.
Hal ini karena, setiap orang memberikan penilaian terhadap segala sepak terjang kita dalam kehidupan. Semakin bagus sepak terjang kita, maka semakin eksis kita dalam kehidupan.
Siapa diri kita? Pertanyaan ini sebenarnya tidak perlu dijawab sebab secara tidak sadar, dalam komunikasi dan interaksi antar personal di kehidupan, kita sudah memperkenalkan diri kita. Masyarakat sebenarnya sudah mengenal kita, sebelum kita mengenal mereka.
Oleh karena itulah, kita harus menyadari bahwa bagaimana pola hidup kita adalah menunjukkan siapa sebenarnya diri kita ini. Kesadaran atas eksistensi diri seharusnya mendorong kita untuk terus eksis dalam kehidupan ini. Kita harus selalu berhati-hati dalam menerapkan konsep hidup yang kita jadikan cermin hidup kita.
Meningkatkan Rasa Saling Menghormati
Sopan santun dalam pergaulan merupakan konsep positif dalam kehidupan. Hal ini terkait dengan upaya membangun citra diri di masyarakat. Dengan konsep sopan santun yang tinggi, maka citra diri kita juga meninggi. Tetapi, jika konsep sopan santun ini rendah, maka nilai atau citra diri kita juga merendah. Oleh karena itulah, kita harus selalu menjaga agar citra diri kita tetap meninggi.
Dalam interaksi antar personal yang terjadi dalam pergaulan masyarakat, seringkali friksi antar personal besar sekali. Hanya karena kesalahan kecil, maka hal tersebut dapat menjadikan permasalahan rumit. Dan, hal tersebut dapat tercipta jika di antara kita ada rasa saling menghormati pribadi masing-masing.
Dengan menerapkan sopan santun dalam pergaulan, maka sikap saling menghormati dapat ditumbuhkembangkan sebagai pola kehidupan kemapanan. Hal ini dapat kita gambarkan sebagai sebuah kondisi kehidupan yang didasari oleh saling pengertian, maka setiap permasalahan yang ada dapat segera diselesaikan. Kita tidak memberikan kesempatan berkembang kondisi-kondisi negatif dalam masyarakat.
Mengembangkan Rasa Solidaritas
Dalam konteks lainnya, sopan santun dalam pergaulan ternyata dapat mengembangkan rasa solidaritas sesama. Jika kita mempunyai bekal hidup kesopanan dan kesantunan, maka hal tersebut merupakan titik tumbuh dari rasa solidaritas sesama.
Orang-orang yang hidup dengan tingkat sopan santun tinggi pasti lebih mengedepankan bagaimana caranya menyenangkan orang lain. Berlaku sopan dan santun merupakan upaya agar orang lain merasa senang dengan segala yang kita lakukan. Bukanlah dengan bersikap sopan dan santun terhadap orang lain, maka hal tersebut mencerminkan tingkat respek atau hormat kita pada seseorang tersebut?
Begitu pentingnya sopan santun dalam pergaulan sangat dirasakan di negeri kita yang heterogen ini. Pada setiap masyarakat kita ada banyak ragam manusia dengan sikap dan sifat serta latar belakang budaya yang berbeda. Kita harus dapat mengkontribusi setiap kondisi untuk mencapai kondisi terbaik. Dan, salah satu cara tertepat adalah dengan mengembangkan kesopanan dan kesantunan dalam interaksi personal.
Sikap sopan santun dalam pergaulan memang merupakan basis dari rasa solidaritas. Jika kita menerapkan kesopanan dan kesantunan dalam hidup, maka masyarakat memberikan nilai plus pada kita dan hal tersebut memungkinkan rasa saling memperhatikan eksistensi kita. Dan, rasa saling memperhatikan inilah yang selanjutnya melahirkan sikap solidaritas dalam masyarakat.
Memperhatikan hal tersebut, seyogyanya kita saling introspeksi diri, apakah kesopanan dan kesantunan kita dalam kehidupan masyarakat sudah cukup bagus?

makna ucapan Assalamu'alaikum

Makna Dari Ucapan Assalamu'alaikum

by Aгģαταş on 03:52 PM, 09-Jan-12
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh merupakan ucapan salam dalam Bahasa Arab yang digunakan oleh Ummat Islam di seluruh Dunia.
Dengan ucapan salam dapat mempererat tali persaudaraan di antara Ummat Islam, karena dengan ucapan itu sebenarnya kita telah saling mendo’akan satu sama lain.
Ucapan Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh yang berarti secara harfiah ;
Semoga diberikan keselamatan atasmu, dan rahmat Allah serta berkah-Nya juga kepadamu”.
Beda lagi kalau kita menyingkatnya.
Misalkan karena kondisi yang sering di alami ketika SMS- an,Chatingan,ataupun yang lain.. dengan alasan untuk menyingkat waktu dan supaya irit pulsa (Esia Version) kata Assalamu’alaikum sering disingkat menjadi Asslmkm, Aslmkm dan ada juga yang sering menyingkatnya menjadi kata “Ass”.
Dilihat Tulisan Assalamu’alaikum yang mempunyai makna yang begitu dalam, begitu di singkat menjadi beberapa versi apakah itu akan menghilangkan makna yang sebenarnya? Wallohu’alam saya juga tidak tahu soal itu, tapi yang jelas ada satu singkatan yang menjijikan untuk kita gunakan mewakili Tulisan Assalamu’alaikum.
Tulisan Assalamu’alaikum dalam Bahasa Arab yang memiliki makna yang begitu mulia ketika kita singkat menjadi kata “Ass” akan menemukan satu arti yang jauh dari arti yang sebenarnya.
Memang beda bahasa antara Tulisan Assalamu’alaikum yang berbahasa Arab dan kata ”Ass” yang berbahasa Inggris.
Kalau kita mengartikan kata “Ass” dalam Bahasa Inggris akan menemukan arti :
ass kb.
1 (animal) keledai.
2 orang yang bodoh.
Don’t be a silly a.
Janganlah sebodoh itu.
3 Vlug.: pantat.
Sungguh satu arti yang begitu tidak di inginkan oleh kita jika kata itu di ucapkan kepada kita.
Untuk itu baiknya dalam melakukan ucapan Assalamu’alaikum melalui tulisan kita harus mengetahui terlebih dahulu apa sebenarnya yang kita tulisakan.
Bukannya tidak boleh untuk menyingkat satu kata dalam menuliskan sesuatu.
Tapi dengan singkatan itu kita harus tahu konsekuensinya.
Sebagai manusia yang berilmu mungkin kita harus tahu terhadap apa yang kita lakukan sebenarnya, karena kalau kita tidak tahu dengan apa yang kita lakukan akan sia-sia amal yang kita lakukan dari perbuatan itu, jangan sampai melakukan sesuatu tanpa harus tahu apa yang sedang kita lakukan sebenarnya.
Disamping itu, singkatan merupakan salah satu tata bahasa yang di perbolehkan dalam Bahasa Indonesia.
Jikalau memang di perbolehkan untuk mensingkat sesuatu, adakah satu singkatan resmi dalam Bahasa Indonesia untuk menyingkat Tulisan Assalamu’alaikum sehingga dengan singkatan itu di peroleh makna yang sama dengan tulisan yang sebenarnya?
Mungkin disini bukan tugas kita sebagai rakyat biasa untuk memberikan istilah secara resmi.
Tugas para ahli bahasalah yang seharusnya segera meluruskan masalah ini di bantu oleh Pemerintah yang melegalkannya.
Yuh kita bareng-bareng belajar mengucapkan salam kepada teman-teman kita walau hanya didunia maya..
Dan saya minta maaf apabila tulisanku ada yang gak bener menurut anda..karena aku cuma manusia yang tidak luput dari salah dan dosa..
Tapi alangkah baiknya kita saling mengingatkan antara satu dengan yang lainya...?

Kamis, 07 Maret 2013

setiap ucapan masuk dalam amal


.  Setiap Ucapan Akan Masuk Catatan Amal


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh....
Puji dan syukur kehadirat Allah Rabb semesta alam, dan Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam beserta keluarga, sahabat dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh pada manhajnya hingga hari kiamat. Amma Ba'du...

Pada postingan yang lalu, kami telah menguraikan sedikit banyaknya tentang Pentingnya Menjaga Lisan beserta manfa'at menjaga lisan. Dan anggap saja pembahasan tentang Setiap Ucapan Akan Masuk Catatan Amal ini merupakan lanjutannya nya smile hehe.


Sebuah ayat yang patut kita renungi sekaligus yang menarik sekali untuk dikaji yang berisi pelajaran agar kita pintar-pintar menjaga lisan.
Ayat tersebut terdapat dalam surat Qaaf tepatnya ayat 18.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, (artinya) :
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf : 18)
Ucapan yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah yang diucapkan oleh manusia, keturunan Adam. Ucapan tersebut dicatat oleh Malaikat yang sifatnya Raqib dan ‘Atid yaitu senantiasa dekat dan tidak pernah lepas dari seorang hamba. Malaikat tersebut tidak akan membiarkan satu kalimat dan satu gerakan melainkan ia akan mencatatnya.
Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, (artinya) :
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Infithar : 10-12)

Apakah semua perkataan akan dicatat ?
Apakah hanya yang bernilai pahala dan dosa saja yang dicatat ?
Ataukah perkataan yang bernilai netral pun dicatat ?


Tentang masalah ini para ulama ada dua pendapat. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang dicatat hanyalah yang bernilai pahala dan dosa. Namun jika kita melihat dari tekstual ayat, yang dimaksud ucapan dalam ayat tersebut adalah ucapan apa saja, sampai-sampai ucapan yang mubah sekalipun.
Akan tetapi, untuk masalah manakah yang kena hukuman, tentu saja amalan yang dinilai berpahala dan dinilai dosa.
Sebagian ulama yang berpendapat bahwa semua ucapan yang bernilai netral (tidak bernilai pahala atau dosa) akan masuk dalam lembaran catatan amalan, sampai-sampai punya sikap yang cukup hati-hati dengan lisannya.

Cobalah kita saksikan bagaimana kisah dari Imam Ahmad ketika beliau merintih sakit. Imam Ahmad pernah didatangi oleh seseorang dan beliau dalam keadaan sakit. Kemudian beliau merintih kala itu. Lalu ada yang berkata kepadanya (yaitu Thowus, seorang tabi’in yang terkenal), “Sesungguhnya rintihan sakit juga dicatat (oleh malaikat).”
Setelah mendengar nasehat itu, Imam Ahmad langsung diam, dan beliau tidak merintih lagi. Beliau takut jika merintih sakit, rintihannya tersebut akan dicatat oleh malaikat.

Coba bayangkan bahwa perbuatan yang asalnya wajar-wajar saja ketika sakit, Imam Ahmad pun tidak ingin melakukannya karena beliau takut perbuatannya tadi walaupun dirasa ringan masuk dalam catatan malaikat. Oleh karena itu, beliau rahimahullah pun menahan lisannya.
Barangkali saja rintihan tersebut dicatat dan malah dinilai sebagai dosa nantinya. Barangkali rintihan tersebut ada karena bentuk tidak sabar.


Mampukah kita selalu memperhatikan lisan ?

Sungguh nasehat yang amat bagus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya kita bisa resapi dalam-dalam dan selalu mengingatnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (artinya) :
“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988)


Intinya, penting sekali memperhatikan lisan sebelum berucap.
An-Nawawi rahimahullah menyampaikan dalam kitabnya Riyadhush Sholihin nasehat yang amat bagus, “Ketahuilah bahwa sepatutnya setiap orang yang telah dibebani berbagai kewajiban untuk menahan lisannya dalam setiap ucapan kecuali ucapan yang jelas maslahatnya. Jika suatu ucapan sama saja antara maslahat dan bahayanya, maka menahan lisan untuk tidak berbicara ketika itu serasa lebih baik. Karena boleh saja perkataan yang asalnya mubah beralih menjadi haram atau makruh.
Inilah yang seringkali terjadi dalam keseharian. Jalan selamat adalah kita menahan lisan dalam kondisi itu.”

Jika lisan ini benar-benar dijaga, maka anggota tubuh lainnya pun akan baik. Karena lisan adalah interpretasi dari apa yang ada dalam hati dan hati adalah tanda baik seluruh amalan lainnya.
Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Bila manusia berada di waktu pagi, seluruh anggota badan akan patuh pada lisan. Lalu anggota badan tersebut berkata pada lisan : Takutlah pada Allah bersama kami, kami bergantung padamu. Bila engkau lurus kami pun akan lurus dan bila engkau bengkok (menyimpang) kami pun akan seperti itu.” (HR. Tirmidzi no. 2407. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Hadits ini pertanda bahwa jika lisan itu baik, maka anggota tubuh lainnya pun akan ikut baik.
Semoga artikel singkat ini dari kajian tafsir surat Qaaf bermanfaat bagi kita semua nya.
Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu menjaga lisan kami ini agar tidak terjerumus dalam kesalahan.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat...